Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi
Direktur Research and Literacy Institute (RLI)
Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Saya pernah duduk di belakang kelas sebuah madrasah saat seorang guru menjelaskan materi matematika. Di barisan depan, dua siswa menjawab dengan cepat. Di tengah, beberapa anak berusaha mengikuti. Di belakang, ada siswa yang hanya menatap buku tanpa bergerak. Saya melihat perbedaan itu seperti jarak yang tidak kasat mata, tapi terasa jelas. Jarak itu tidak lahir dalam sehari. Ia terbentuk dari kondisi rumah, pendampingan, gizi, dan pola belajar yang tidak sama.
Saya pulang hari itu dengan pikiran yang gaduh. Saya bertanya pada diri sendiri, bagaimana mungkin madrasah bicara kualitas jika sebagian siswa masih tertinggal jauh dari teman-temannya. Saya ingat seorang anak yang berkata pelan setelah kelas selesai. Ia bilang ia ingin belajar, tapi sering merasa lambat. Kata-katanya sederhana, tapi terasa berat. Di momen itu saya sadar bahwa kesenjangan belajar bukan angka statistik. Ia wajah dan suara.
Saya percaya kepemimpinan madrasah memegang kunci untuk mengubah kondisi ini. Kepala madrasah yang peka bisa melihat pola ketertinggalan sejak awal. Ia tidak hanya fokus pada nilai rapor. Ia memperhatikan ekspresi siswa. Ia mendengarkan cerita guru. Ia membaca ritme kelas yang tidak selalu terjangkau oleh laporan administratif. Ia hadir secara emosional dan intelektual.
Strategi untuk menghapus kesenjangan belajar tidak perlu dimulai dengan hal yang besar. Guru bisa membuat kelompok belajar kecil. Siswa yang cepat memahami pelajaran membantu temannya yang butuh waktu lebih lama. Cara sederhana ini pernah saya lihat di satu madrasah dan hasilnya terasa. Anak-anak yang dulu tertinggal mulai berani mengangkat tangan. Mereka tidak takut salah karena suasananya sudah berubah.
Madrasah juga bisa menata ulang jadwal belajar. Ada madrasah yang menyediakan sesi tambahan tiga puluh menit untuk siswa yang belum menguasai materi. Sesi ini ringan dan tidak membuat mereka merasa berbeda. Saya melihat bahwa pendekatan seperti ini menumbuhkan rasa percaya diri. Anak yang biasanya diam mulai memberikan jawaban meski suaranya pelan.
Kesenjangan belajar sering dipengaruhi keadaan rumah. Beberapa anak tidak punya ruang belajar yang tenang. Ada yang harus membantu orang tua bekerja. Ada yang tidak punya buku. Madrasah bisa membangun mini perpustakaan kelas. Buku-bukunya sederhana, tapi cukup untuk menemani anak yang ingin membaca saat istirahat. Saya melihat satu perpustakaan kecil ini mengubah suasana kelas. Anak-anak jadi lebih banyak membaca tanpa paksaan.
SDG’s berbicara tentang pendidikan yang berkualitas dan inklusif. Saya merasa strategi menghapus kesenjangan belajar adalah bagian penting dari misi itu. Madrasah yang mampu memastikan semua anak memahami pelajaran punya peran besar dalam membangun keadilan sosial. Tidak ada anak yang tertinggal bukan slogan. Ia target yang harus dicapai dengan kerja harian yang konsisten.
Saya juga percaya pentingnya kolaborasi dengan orang tua. Orang tua tidak harus selalu hadir di sekolah. Mereka cukup terhubung. Madrasah bisa membuat pesan singkat tentang perkembangan anak. Bisa berupa catatan kecil yang mudah dipahami. Ketika orang tua tahu apa yang terjadi, mereka bisa mendukung dari rumah. Saya melihat hubungan yang hangat antara madrasah dan orang tua sering membuat anak lebih bersemangat belajar.
Ada juga strategi yang saya senangi. Madrasah mengundang alumni yang pernah mengalami masa sulit di sekolah. Mereka berbagi cerita. Anak-anak mendengarkan dengan mata yang berbinar. Cerita itu membuat mereka merasa tidak sendirian. Mereka melihat bahwa ketertinggalan bukan akhir. Saya selalu percaya cerita adalah guru yang tidak terlihat.
Beberapa madrasah mulai berinovasi dengan memanfaatkan teknologi sederhana. Bukan aplikasi rumit. Hanya video pendek tentang materi penting. Anak bisa menontonnya kembali di rumah. Video sederhana ini membantu anak yang butuh pengulangan. Saya melihat seorang anak memutar video yang sama berkali-kali. Ia tersenyum ketika akhirnya bisa memahami.
Saya belajar bahwa strategi terbaik bukan yang paling canggih. Strategi terbaik adalah yang paling dekat dengan kehidupan siswa. Sederhana, mudah dijalankan, dan tidak membuat anak merasa kurang. Ketika madrasah memberi ruang yang aman untuk belajar, anak-anak mulai berani mencoba lagi. Rasa percaya diri mereka tumbuh perlahan.
Kesenjangan belajar akan selalu ada. Tapi ia bisa dipersempit. Ia bisa dikurangi sedikit demi sedikit. Ia bisa dikelola dengan kasih sayang, ketelatenan, dan kepemimpinan yang hadir di tengah-tengah anak dan guru. Saya percaya madrasah bisa menjadi tempat yang merangkul semuanya. Tempat yang tidak hanya mengajar, tapi juga menguatkan. Tempat yang memberi kesempatan setara bagi setiap anak untuk berkembang sesuai kemampuannya.