Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Direktur Research and Literacy Institute [Perkumpulan Peneliti dan Pegiat Literasi]

=======================================
Kadang-kadang, kita lupa bahwa lembaga pendidikan Islam bukan hanya tempat menghafal ayat dan menanamkan kedisiplinan. Ia adalah ruang hidup tempat ide, semangat, dan nilai tumbuh atau layu. Dalam ruang itu, siapa yang memimpin—dan bagaimana cara ia memimpin—menentukan arah dan napas lembaga tersebut.
Saya ingin mengawali tulisan ini dengan satu pengakuan sederhana: saya merindukan pemimpin lembaga pendidikan yang tidak hanya bisa mengelola rapat dan absen guru, tapi yang punya api. Api berpikir, api batin, dan api keberanian untuk berjalan di jalan yang sulit, demi satu hal: memanusiakan manusia lewat pendidikan.
Dan ketika saya menyebut “api”, saya teringat kepada seorang tokoh yang dalam banyak hal jauh dari dunia teknis pendidikan, tapi justru mewariskan semangat yang relevan bagi kepemimpinan pendidikan Islam hari ini: Nurcholish Madjid, atau Cak Nur.
Bukan Soal Gaya, Tapi Soal Pandangan Dunia
Cak Nur tidak pernah menjadi kepala sekolah. Ia juga tidak pernah mengelola yayasan pendidikan. Tapi pemikirannya tentang Islam yang membebaskan, mencerahkan, dan memanusiakan justru terasa sangat menyentuh jantung persoalan pendidikan Islam hari ini.
“Agama harus menjadi sumber pencerahan, bukan kegelapan; pembebas, bukan penindas.” (Madjid, Nurcholish. 1997. Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina)
Kepemimpinan dalam pendidikan Islam, dalam semangat Cak Nur, bukanlah soal karisma, sertifikat, atau jabatan. Ia adalah amanah. Dan amanah itu harus dijiwai oleh niat untuk melayani, bukan menguasai; membimbing, bukan menaklukkan.
Kepemimpinan Adalah Ibadah
Sayangnya, kita masih menjumpai pemimpin lembaga pendidikan Islam yang mendefinisikan kepemimpinan seperti manajer pabrik: mengatur, mengawasi, dan menekan target. Lembaga dijalankan seperti mesin. Guru dianggap operator. Murid adalah produk. Dan yang paling sering diabaikan: nilai.
Padahal dalam pandangan Islam, kepemimpinan adalah bentuk ibadah. Nabi Muhammad SAW sendiri menggambarkan kepemimpinan sebagai tanggung jawab besar: “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.”
Ini bukan ungkapan untuk menakut-nakuti. Tapi pengingat bahwa memimpin sekolah berarti memimpin kehidupan banyak orang—dari guru, staf, hingga murid-murid yang mungkin di rumahnya tidak pernah punya ruang untuk tumbuh. Maka, jika seorang kepala sekolah tidak punya kesadaran spiritual, ia akan mudah tergelincir dalam formalitas dan kekuasaan yang hampa.
Cak Nur dan Pemimpin yang Tidak Gagap Zaman
Salah satu warisan besar dari Cak Nur adalah keberaniannya untuk tidak gagap zaman. Ia membaca dunia modern bukan dengan kecurigaan, tapi dengan keterbukaan. Ia tidak menolak Barat mentah-mentah, tapi memilah: mana yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, dan mana yang tidak.
“Kita tidak boleh anti-Barat atau menutup diri dari perkembangan ilmu dan pemikiran. Justru di sanalah kita harus hadir sebagai pelaku aktif.”
📘 (Madjid, Nurcholish. 2008. Islam Agama Kemanusiaan. Jakarta: Paramadina)
Pemimpin lembaga pendidikan Islam harus berhenti alergi pada perubahan. Mereka harus siap berdialog dengan teknologi, metode pembelajaran baru, dan tuntutan zaman. Tapi dengan satu syarat: tidak kehilangan akar.
Kepemimpinan yang baik bukanlah yang hanya bisa berkata “kita harus berubah”, tapi yang bisa menjelaskan mengapa harus berubah dan bagaimana tetap menjaga nilai-nilai Islam di tengah perubahan itu. Ini bukan perkara mudah, tapi sangat mungkin jika pemimpinnya punya “api berpikir” seperti yang Cak Nur wariskan.
Memimpin dengan Hati yang Tumbuh
Barangkali, salah satu kutipan Cak Nur yang paling dalam maknanya bagi saya adalah ini:
“Agama, bagi saya, adalah keikhlasan total.”
(Madjid, Nurcholish. 1997. Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina)
Dan dari sana saya belajar bahwa memimpin lembaga pendidikan Islam dengan ikhlas berarti memimpin dengan hati yang terus tumbuh.
Bukan hati yang keras dan mudah menghakimi. Tapi hati yang peka, yang tahu kapan harus mendengar, kapan harus mengambil keputusan, dan kapan harus memaafkan.
Karena pada akhirnya, yang paling diingat dari seorang pemimpin bukan target tahunan, bukan akreditasi, bukan pembangunan aula. Tapi apakah ia pernah sungguh-sungguh menjadi teladan, memberi ruang tumbuh bagi bawahannya, dan membuat lembaganya menjadi tempat yang hidup.
Menyalakan Api, Bukan Menjaga Abu
Cak Nur sering mengingatkan umat Islam untuk tidak terpaku pada kebesaran masa lalu, melainkan menjaga semangatnya.
“Jangan kita warisi abu dari api, tapi warisilah apinya.”
(Madjid, Nurcholish. 2000. Bilik-Bilik Pesantren. Jakarta: Paramadina)
Kita tidak kekurangan pemimpin formal di lembaga pendidikan Islam. Tapi kita sering kekurangan pemimpin yang berani membawa cahaya, bukan hanya menyalakan lampu.
Kepemimpinan bukan soal besar kecilnya lembaga, tapi soal besar kecilnya niat, gagasan, dan keberanian untuk menyalakan api. Dan dari Cak Nur, kita belajar: yang dibutuhkan umat ini bukan penghafal sejarah, tapi penyala masa depan.