
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Transformasi STAI Al Masthuriyah menjadi Institut Al-Masthuriyah Sukabumi menjadi langkah besar bagi pendidikan tinggi Islam di daerah ini. Perubahan ini lahir dari proses panjang yang dipimpin Rektor Dr. KH. Abu Bakar Sidik, M.Ag. Saya mengucapkan selamat kepada seluruh sivitas. Banyak kerja sudah dilakukan. Sekarang tantangan baru menunggu untuk dijalani bersama.
Sebagai akademisi yang menggeluti bidang Manajemen Pendidikan Islam, ingin rasanya memberikan sedikit kontribusi sebagai bentuk apresiasi dan kebanggaan atas transformasi kelembagaan ini. Saya masih ingat saat menyelesaikan Doktor di UPI Bandung 2013, major penelitian saya tentang Kepemimpinan dan Manajemen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swas di Jawa Barat. Banyak temuan dari riset tersebut. Beberapa hal saya jadikan teori saat menganalisis fenomena empiris. Artinya, lanjutan cerita riset saya, saya tuangkan sedikit dalam tulisan ini. Tentu dengan pengembangan teori dan pembaruan diksi.
Al-Masthuriyah tumbuh dari tradisi pesantren yang kokoh. Nilai adab, tanggung jawab sosial, dan kedekatan dengan masyarakat sudah melekat sejak awal. Inilah yang membuat kampus ini dikenal sebagai Kampus Pergerakan Ummat. Identitas itu menjadi modal penting dalam transformasi. Di tengah perubahan dunia, karakter pesantren memberi arah agar kampus tetap berada pada koridor pengabdian.
Perubahan status menjadi institut membuka ruang baru bagi pengembangan akademik. Perguruan tinggi Islam tidak bisa bertahan dengan pola lama. Dunia kerja berubah cepat. Masyarakat membutuhkan lulusan yang terampil membaca persoalan sosial, memahami teknologi, dan mampu berkolaborasi lintas bidang. Sukabumi membutuhkan SDM yang siap terlibat dalam pertumbuhan daerah. Transformasi kelembagaan hadir sebagai jawaban atas kebutuhan ini.
Transformasi juga membawa perubahan substantive. Mandat akademik kampus bertambah luas. Program studi baru perlu dirancang dengan cermat. Sistem tata kelola perlu diperbarui. Standar mutu perlu diperkuat. Riset harus meningkat, baik dalam jumlah maupun kontribusi. Kampus perlu membangun jejaring akademik yang mampu membawa Al Masthuriyah ke percakapan nasional. Semua langkah ini membutuhkan rencana strategis yang jelas.
Pada titik ini, perubahan mindset menjadi kunci. Transformasi kelembagaan tidak akan berjalan jika pola pikir personal dan kelembagaan tetap sama. Mindset dosen, mahasiswa, dan pimpinan perlu bergerak sejalan dengan arah perubahan.
Dosen memegang peran sentral. Mereka perlu melihat transformasi bukan sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan untuk naik kelas. Mindset yang dibutuhkan adalah kesiapan belajar, keberanian menghadapi teknologi, dan komitmen memperkuat budaya riset dan publikasi. Dosen juga harus mampu memadukan literasi digital dengan nilai pesantren. Penggunaan AI, analisis data, dan pembelajaran digital harus diarahkan untuk memperkuat kualitas pembelajaran, bukan menggantikannya.
Mahasiswa menghadapi tantangan berbeda. Status institut menuntut standar akademik yang lebih tinggi. Mereka perlu terbiasa membaca artikel jurnal, mengolah data, dan memahami etika penggunaan teknologi. Mindsetnya harus bergeser. Mereka bukan hanya penerima materi. Mereka bagian dari Kampus Pergerakan Ummat yang memiliki tanggung jawab sosial. Pengabdian masyarakat bisa menjadi ruang latihan untuk melihat bagaimana ilmu memberi jawaban atas masalah nyata di Sukabumi.
Pimpinan dan sistem kelembagaan juga perlu berubah. Transformasi memerlukan keputusan yang berani dan konsisten. Mindset lembaga harus bergeser dari pola reaktif ke pola yang proaktif. Perencanaan strategis harus berbasis data. Setiap unit harus memahami arah kampus dan menyelaraskan programnya. Tata kelola modern perlu dibangun tanpa menghilangkan kehangatan khas pesantren.
Rekrutmen dosen menjadi tugas penting. Institut membutuhkan dosen berkualifikasi doktor, menguasai literasi digital, memahami riset, dan mampu hidup dalam kultur pesantren. Modal sosial Al Masthuriyah cukup kuat. Ini bisa menjadi daya tarik bagi talenta muda yang ingin berkarir sambil tetap berada dalam ekosistem nilai keagamaan.
Rekrutmen mahasiswa juga memerlukan strategi yang tepat. Banyak kampus lain agresif dalam promosi. Al Masthuriyah perlu menawarkan program studi yang relevan, pendekatan pembelajaran yang berbasis nilai, dan lingkungan kampus yang aman. Identitas Kampus Pergerakan Ummat bisa menjadi nilai tambah bagi calon mahasiswa dan orang tua yang mencari pendidikan berkarakter.
Budaya akademik menjadi wilayah yang harus diperkuat. Tradisi diskusi dan literasi perlu hidup. Bahtsul masail bisa dikemas ulang menjadi ruang dialektika akademik yang lebih formal dan terarah. Riset yang mengangkat persoalan lokal Sukabumi dapat menjadi kontribusi nyata kampus terhadap masyarakat. Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa dapat membangun ekosistem intelektual yang sehat.
Perkembangan digital dan AI mengubah banyak hal di dunia pendidikan. Kurikulum harus menyesuaikan. Dosen perlu pelatihan. Mahasiswa perlu memahami cara memanfaatkan teknologi dengan bijak. Kampus dapat membangun pusat kajian digital yang tetap berakar pada nilai pesantren. Pendekatan ini akan memperkuat posisi Al Masthuriyah sebagai kampus Islam yang siap menghadapi masa depan
Transformasi ini membawa peluang besar. Institut Al Masthuriyah Sukabumi dapat menjadi pusat kecerdasan sosial dan keagamaan di Sukabumi. Kampus dapat memperkuat kontribusinya dalam membentuk masyarakat yang religius, cerdas, dan adaptif. Riset dapat diarahkan untuk menjawab persoalan publik. Kerja sama dengan pemerintah daerah dan lembaga sosial dapat diperluas. Identitas Kampus Pergerakan Ummat menjadi petunjuk arah bagi seluruh perjalanan ini.
Perjalanan masih panjang, tetapi langkah besar sudah diambil. Semoga Al Masthuriyah terus tumbuh sebagai kampus Islam yang mampu menyatukan tradisi pesantren dengan kebutuhan masa depan. Saya menyampaikan dukungan dan doa untuk Rektor, para pimpinan, dosen, mahasiswa, dan seluruh keluarga besar Al Masthuriyah. Semoga transformasi ini menjadi berkah bagi masyarakat dan membawa kampus ini ke posisi yang lebih kokoh dalam peta pendidikan Indonesia.
——–
Mulyawan Safwandy Nugraha adalah Akademisi dengan fokus kajian pada Kepemimpinan, adminstrasi dan manajemen Pendidikan islam. Lulus program Doktor dari UPI Bandung 2013. Saat ini sedang gandrung mengkaji Nilai-Nilai Islam dan psikologi dalam kepemimpinan. Home base di UIN SGD Bandung, dan berkhidmat di beberapa PTKIS di Sukabumi termasuk di Institut Al-Masthuriyah Sukabumi (dh. STAI Al Masthuriyah Sukabumi). Saat ini, diamanahi sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi, Direktur Research and Literacy Institute (RLI) dan beberapa pengabdian di beberapa organisasi. Menjadi reviewer di Jurnal Nasional dan Editor di Jurnal Terindeks Scopus. Menyenangi dunia penelitian,, pengabdian, publikasi dan pengelolaan jurnal ilmiah.