RLI
Friday, January 30, 2026
No Result
View All Result
  • HOME
  • PROFIL
  • JURNAL
  • KEGIATAN
  • VIDEO
  • HOME
  • PROFIL
  • JURNAL
  • KEGIATAN
  • VIDEO
No Result
View All Result
RLI
No Result
View All Result
Home Uncategorized

Mewujudkan Madrasah ramah anak untuk semua

Admin by Admin
November 9, 2025
in Uncategorized
0 0
0
0
SHARES
24
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

 

Saya pernah berdiri cukup lama di depan gerbang sebuah madrasah sambil memperhatikan arus siswa yang datang satu per satu. Ada yang datang sambil bercanda. Ada yang setengah berlari karena takut terlambat. Ada juga yang masuk dengan wajah datar seolah hanya menjalani rutinitas. Di antara mereka, saya melihat seorang anak yang melangkah pelan seperti sedang menimbang apakah tempat yang akan ia masuki itu benar-benar aman untuknya. Pemandangan kecil itu membuat saya berpikir tentang bagaimana rasa aman bukan hanya soal bangunan, tetapi soal suasana batin.

 

Saat masuk ke halaman, saya berbincang dengan seorang guru muda. Ia bercerita bahwa beberapa siswa sering datang lebih awal bukan karena rajin, tetapi karena rumah mereka tidak memberi cukup ruang untuk merasa tenang. Mereka memilih madrasah sebagai tempat berlindung sementara. Mendengar itu, saya merasakan bahwa keamanan di madrasah bukan sekadar menghindarkan anak dari bahaya. Keamanan berarti memberi ruang bagi anak untuk bernapas lebih lega dibanding rumahnya sendiri.

 

Saya melangkah ke koridor dan mendengar tawa beberapa siswa. Suasana itu terasa hangat. Namun suara itu tidak menyentuh semua anak dengan cara yang sama. Ada anak yang tetap berjalan sambil menunduk. Ada yang menahan diri agar tidak menjadi pusat perhatian. Dari situ saya merasakan bahwa kenyamanan di madrasah kadang tidak merata. Ada yang langsung merasa diterima. Ada yang harus berjuang lebih keras.

 

Kepala madrasah yang menemani saya berkeliling sempat berkata pelan bahwa tugas terbesar madrasah bukan hanya mengajar, tetapi membuat setiap anak merasa ia pantas berada di sana. Kalimat itu terus terngiang. Saya melihat ia menyapa siswa bukan dengan formalitas, tetapi dengan ketulusan yang terlihat dari cara matanya mengikuti setiap anak yang lewat.

 

Saya teringat satu ruang konseling kecil yang dindingnya ditempeli gambar buatan siswa. Ruangan itu tidak mewah. Kursinya sederhana. Tetapi ada anak yang berkata bahwa itu ruang paling aman di madrasah. Ia bisa menjadi dirinya. Ia tidak takut dihakimi. Saya terdiam cukup lama setelah mendengar cerita itu. Sebab saya tahu banyak madrasah lain yang belum menyediakan ruang semacam itu.

 

Pernah juga saya melihat guru mengubah suasana kelas hanya dengan memulai pelajaran dengan pertanyaan ringan. Guru itu bertanya apakah ada yang ingin bercerita tentang hal yang membuat mereka gelisah. Tidak ada paksaan. Tidak ada tekanan. Beberapa anak mengangkat tangan. Mereka berbagi sedikit cerita. Suasana kelas terasa lebih manusiawi. Pembelajaran setelah itu berjalan lebih lancar karena anak merasa aman untuk membuka diri.

 

Saya juga ingat ketika seorang siswa mengaku tidak berani masuk kelas karena sering diejek soal penampilannya. Ia ingin pindah sekolah. Guru yang menangani tidak menasihati panjang lebar. Ia hanya mendengarkan. Tindakan kecil itu memberi kekuatan besar. Kadang anak tidak butuh solusi saat itu juga. Mereka butuh orang dewasa yang sabar duduk bersama mereka.

 

Lingkungan fisik juga sangat berpengaruh. Saya pernah melihat madrasah yang mengubah ruang sempit menjadi sudut baca sederhana. Hanya beberapa buku dan karpet tipis. Anak-anak berkumpul di sana seperti menemukan tempat berteduh. Sudut kecil itu menjadi ruang aman bagi mereka yang butuh istirahat dari hiruk pikuk kelas. Hal seperti itu mungkin terlihat remeh. Tapi bagi sebagian siswa, itu menjadi penopang harian.

 

Nilai-nilai Islam sebenarnya memberi landasan kuat untuk membangun keamanan dan kenyamanan. Ada rahmah. Ada amanah. Ada adab. Semua itu bisa diterjemahkan dalam kebijakan yang dekat dengan kehidupan siswa. Tidak harus rumit. Tidak harus teoretis. Cukup diterapkan dengan konsisten agar anak tahu bahwa mereka tidak hanya bersekolah di tempat yang punya aturan, tetapi juga di tempat yang punya jiwa.

 

Dalam banyak kunjungan, saya sering menemukan bahwa keberhasilan menciptakan madrasah yang aman sangat bergantung pada keberanian guru dan pimpinan untuk mendengar hal-hal kecil. Siswa yang canggung. Anak yang sering sendirian. Teman sebaya yang terlalu dominan. Masalah kecil sering menjadi akar dari masalah besar bila dibiarkan.

 

Saya percaya SDG’s memberi kita panduan yang jelas. Pendidikan berkualitas tidak pernah lepas dari rasa aman. Tidak ada pembelajaran yang efektif di tengah ketakutan. Tidak ada kreativitas yang tumbuh bila siswa merasa diawasi secara emosional oleh lingkungan yang tidak ramah.

 

Ketika madrasah berani membangun budaya aman, perubahan itu terasa dalam banyak bentuk. Anak lebih berani mengemukakan pendapat. Guru lebih sabar menghadapi dinamika kelas. Orang tua lebih percaya bahwa anak mereka berada di tempat yang benar. Semua ini membentuk lingkaran kebaikan yang memperkuat madrasah dari dalam.

 

Saya membayangkan masa depan madrasah yang seperti itu. Anak datang dengan langkah yang ringan. Guru mengajar dengan hati yang lapang. Orang tua merasa didengar. Lingkungan sekolah menjadi ruang tumbuh yang menyembuhkan banyak hal yang tidak terselesaikan di luar.

 

Madrasah yang aman dan nyaman bukanlah impian yang terlalu besar. Ia bisa dimulai dari sapaan lembut di pagi hari. Dari kursi yang ditata ulang. Dari guru yang mau mendengarkan satu anak yang sedang rapuh. Dari kebijakan kecil yang memberi ruang bernapas. Semua itu mungkin terlihat kecil. Tetapi bagi siswa, itu menentukan apakah madrasah menjadi tempat yang ingin mereka datangi atau tempat yang ingin mereka hindari.

 

Jika madrasah berani berjalan ke arah itu, saya yakin pendidikan Islam akan membawa cahaya yang lebih hangat bagi generasi yang sedang tumbuh hari ini. Mereka akan mengenang madrasah bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai tempat yang membuat mereka merasa aman menjadi manusia.

 

____________

Mulyawan Safwandy Nugraha adalah Akademisi dengan fokus kajian pada Kepemimpinan, adminstrasi dan manajemen Pendidikan. Lulus program Doktor dari UPI Bandung 2012. Saat ini sedang gandrung mengkaji Nilai-Nilai Islam dan psikologi dalam kepemimpinan. Home base di UIN SGD Bandung, dan berkhidmat di beberapa PTKIS di Sukabumi. Saat ini, diamanahi sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi, Direktur Research and Literacy Institute (RLI) dan beberapa pengabdian di beberapa organisasi. Menyenangi dunia penelitian,, pengabdian, publikasi dan pengelolaan jurnal ilmiah

Previous Post

Menjaga benteng terakhir penjaga moral anak bangsa

Next Post

Ketika Kampus Pesantren Naik Level: Makna dan Harapan Transformasi menjadi Institut Al-Masthuriyah Sukabumi

Next Post

Ketika Kampus Pesantren Naik Level: Makna dan Harapan Transformasi menjadi Institut Al-Masthuriyah Sukabumi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Ketika Kampus Pesantren Naik Level: Makna dan Harapan Transformasi menjadi Institut Al-Masthuriyah Sukabumi
  • Mewujudkan Madrasah ramah anak untuk semua
  • Menjaga benteng terakhir penjaga moral anak bangsa
  • Ambisi politik aktivis muda dan realitas menuju kekuasaan: What should you do?
  • Dua Guru, Sepuluh Bulan Tanpa Gaji, dan Rasa Keadilan yang Hilang 

Recent Comments

No comments to show.
RLI

© 2024 RLI

Navigate Site

  • Home Page
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • PROFIL
  • JURNAL
  • KEGIATAN
  • VIDEO

© 2024 RLI