
Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Goalpara Sukabumi, pada Juli tahun 2002. Saya sering teringat saat pertama kali masuk ruang kelas sebagai guru muda pada tahun ajaran baru tahun itu. Menjadi guru di sekolah dasar kelas 2. Saya masih kikuk. Saya belum tahu bagaimana menghadapi puluhan pasang mata yang menunggu sesuatu dari saya.
Tapi ada satu hal yang langsung terasa. Sekolah bukan sekadar tempat belajar membaca dan berhitung. Sekolah adalah benteng. Ruang kecil yang menahan derasnya arus zaman. Tempat di mana seorang anak bisa menemukan dirinya sebelum dunia luar menariknya ke banyak arah.
Anda mungkin punya pengalaman serupa. Saat melihat anak-anak di rumah atau di lingkungan sekitar, Anda bisa merasakan betapa cepatnya perubahan berjalan. Nilai berubah. Bahasa berubah. Kebiasaan berubah. Anak-anak hidup dalam dunia yang tidak pernah sunyi dari informasi. Mereka bisa belajar banyak hal dengan cepat. Tapi mereka juga bisa terseret ke hal-hal yang membuat kita gelisah.
Di titik ini, sekolah menjadi benteng terakhir. Tempat yang masih bisa memberi arah. Tempat yang bisa menanamkan dasar moral sederhana. Jujur. Disiplin. Menghargai orang lain. Menjaga diri.
Tahun 2003, saya pindah tugas mengajar. Di daerah Cibadak di sebuah madrasah aliyah. Ada perubahan lingkungan. Murid sudah sedikit dewasa. Namun terdapat kejadian serupa. Ada siswa yang sering tidak masuk kelas.
Saya melihat sendiri bagaimana seorang siswa yang sering bolos itu berubah setelah pembina OSIS memberinya tanggung jawab kecil. Anak itu diberi amanah menjaga absen kelas. Tugasnya sepele. Tapi tanggung jawab itu justru membenahi cara dia memandang dirinya. Ia merasa dipercaya. Ia mulai merasa berguna.
Dari sinilah saya sadar. Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan. Tanggung jawab kecil bisa menjadi titik balik. Banyak anak hanya butuh satu orang dewasa yang percaya pada mereka.
Kadang saya merasa pendidikan kita terlalu sibuk mengejar target administratif. Kita terjebak pada angka. Nilai ujian. Akreditasi. Standar prosedur. Padahal di balik semua itu ada sesuatu yang lebih mendasar. Anak-anak ingin merasa aman.
Mereka ingin dihargai. Mereka ingin ditemani. Mereka ingin diarahkan tanpa dihakimi. Mereka ingin belajar hidup dari orang yang hidup dengan baik. Kita bisa punya kurikulum paling modern. Tapi kalau ruang kelas kehilangan kehangatan, pendidikan kehilangan jiwanya.
Saya juga melihat bagaimana guru sering membawa beban yang berat. Mereka harus mengajar, membina, mendampingi, sekaligus menjadi tempat curhat bagi siswa yang sedang dirundung cemas. Tidak ada insentif yang cukup untuk semua peran itu. Tapi banyak guru tetap melakukannya.
Mereka datang lebih pagi untuk memastikan kelas rapi. Mereka mengantar siswa pulang saat hujan turun. Mereka menyimpan cerita sulit anak-anak dan hanya membaginya kepada Tuhan saat malam tiba. Tanpa tepuk tangan. Tanpa publikasi.
Di sinilah letak rahasia moral bangsa. Ia tidak dibangun oleh kebijakan besar. Ia tumbuh perlahan dari perhatian kecil. Dari seorang guru yang memutuskan untuk tidak memarahi siswanya hari itu. Dari seorang kepala sekolah yang mau mendengar orang tua tanpa defensif. Dari seorang pengawas yang menegur dengan cara yang membangun. Dari komunitas yang memilih berada di sisi pendidikan, bukan sekadar mengomentari dari jauh.
Sekolah tidak akan pernah sempurna. Pendidikan juga tidak akan pernah selesai. Selalu ada kekurangan. Selalu ada hal yang membuat kita ingin mengeluh. Saya pun sering merasa begitu. Tapi semakin sering saya masuk kelas, berbicara dengan anak-anak, atau sekadar duduk di ruang guru, saya makin yakin bahwa masa depan bangsa kita masih punya harapan. Harapan itu lahir bukan dari teori. Harapan itu lahir dari manusia yang masih mau menjaga nilai.
Saat membaca berita tentang tindakan kekerasan, korupsi, atau krisis karakter, saya sering merasa sedih. Tapi saya kembali teringat cerita siswa yang berubah karena diberi kepercayaan kecil. Saya ingat guru-guru yang tetap tersenyum meski gajinya telat. Saya ingat kepala sekolah di desa yang merapikan halaman sekolahnya sendiri setiap pagi. Saya ingat orang tua yang menahan marah hanya agar anaknya melihat contoh kedewasaan. Semua cerita itu adalah alasan mengapa sekolah/madrasah masih layak dipertahankan sebagai benteng.
Anda bisa ikut menjaga benteng ini. Anda bisa mulai dari hal sederhana. Menghargai guru anakmu. Menjadi orang dewasa yang bisa mendengar. Terlibat dalam kegiatan sekolah. Menjaga cara bicaramu di depan anak-anak. Tindakan kecil bisa berdampak besar. Pendidikan bergerak dari orang ke orang. Dari hati ke hati. Tidak ada yang terlalu kecil untuk diabaikan.
Saya percaya benteng moral bangsa tidak akan runtuh selama kita tetap merawat ruang-ruang kecil tempat nilai diajarkan. Sekolah adalah salah satunya. Pendidikan adalah pintunya. Dan setiap dari kita memegang kuncinya.
Wallahu ‘alamu-
==========
Mulyawan Safwandy Nugraha adalah akademisi yang sedang fokus kajian pada Kepemimpinan, adminstrasi dan manajemen Pendidikan. Lulus program Doktor dari UPI Bandung 2012. Saat ini sedang gandrung mengkaji Nilai-Nilai Islam dan psikologi dalam kepemimpinan. Home base di UIN SGD Bandung, dan berkhidmat di beberapa PTKIS di Sukabumi. Saat ini, diamanahi sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi, Direktur Research and Literacy Institute (RLI) dan beberapa pengabdian di beberapa organisasi. Menyenangi dunia penelitian,, pengabdian ,publikasi dan pengelolaan jurnal ilmiah