RLI
Friday, January 30, 2026
No Result
View All Result
  • HOME
  • PROFIL
  • JURNAL
  • KEGIATAN
  • VIDEO
  • HOME
  • PROFIL
  • JURNAL
  • KEGIATAN
  • VIDEO
No Result
View All Result
RLI
No Result
View All Result
Home artikel

Pemimpin yang NPD, Apa itu?

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Admin by Admin
August 29, 2025
in artikel
1 0
0
Pemimpin yang NPD, Apa itu?
0
SHARES
29
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Awalnya saya pikir, bos saya cuma percaya diri. Gaya bicaranya meyakinkan, penampilannya rapi, dan seolah selalu tahu apa yang harus dilakukan. Tapi lama-lama, ada yang bikin batin saya nggak tenang. Ia sering memuji diri sendiri, memojokkan anak buah, dan sangat defensif kalau dikritik. Segala hal harus tentang dia. Rasanya kami cuma wayang, dan dia dalangnya.

Saya pernah ditegur hanya karena mengoreksi datanya yang keliru. Maksud saya baik, tapi dibalas dengan tuduhan tak loyal. “Kamu pikir kamu lebih pintar dari saya?” katanya dengan nada menusuk. Hati saya campur aduk. Bingung, takut, sekaligus sedih. Mulai saat itu saya sadar, ini bukan soal salah paham biasa. Ini soal ego yang terlalu besar untuk disentuh.

Saya lalu mencari tahu. Dari membaca dan bertanya, saya mengenal istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD). Ciri utamanya: haus validasi, sulit menerima kritik, minim empati, dan cenderung memanipulasi. Yang lebih mengejutkan, orang dengan NPD sering justru menonjol di posisi pemimpin—karena mereka jago tampil dan meyakinkan. Tapi di balik itu, mereka bisa sangat merusak secara batiniah.

Teman saya, Dina, juga punya pengalaman yang mirip. Bosnya dulu selalu memujinya di depan publik, tapi di balik layar menjadikannya kambing hitam. “Dipuji saat dibutuhkan, dibuang saat tak lagi penting,” katanya waktu kami ngobrol di sebuah warung kopi. Saya hanya bisa mengangguk. Dalam hati, saya pun pernah merasakan luka yang sama.

Lingkungan kerja seperti ini membuat banyak orang kehilangan kepercayaan diri. Bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena terus-menerus ditekan secara halus. Kita merasa nggak pernah cukup. Kita mulai mempertanyakan nilai diri. Padahal, Islam mengajarkan kita untuk menjaga kehormatan dan harga diri. Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka, jika sesama Muslim saja tidak boleh menzalimi, apalagi memimpin dengan cara yang menyakiti?

Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
(QS. An-Nisa: 36)
Ayat ini sangat jelas. Kepemimpinan yang dibangun di atas kesombongan dan rasa paling benar sendiri bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Saya tahu, tidak semua orang bisa langsung pergi dari lingkungan seperti ini. Kita punya tanggungan, keluarga, cicilan. Tapi bukan berarti harus diam selamanya. Kita bisa mulai dengan mengenali polanya. Lalu perlahan, menjaga jarak secara emosional, menyimpan bukti komunikasi penting, dan mencari dukungan. Boleh dari teman, mentor, atau psikolog. Bahkan dari komunitas dakwah yang menyejukkan.

Saya sendiri butuh waktu 2 tahun merenung sebelum akhirnya resign. Berat? Iya. Tapi setelahnya, saya merasa seperti bernapas kembali. Yang paling saya syukuri: saya tidak kehilangan akal sehat dan iman, walau pernah nyaris merasa tak berharga.

Pemimpin sejati adalah mereka yang amanah. Yang mampu mengayomi, bukan mencederai. Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik dalam hal ini. Beliau bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Maka jelas, memimpin bukan tentang kuasa, tapi tanggung jawab.

Jika kamu sedang bekerja di bawah pemimpin yang keras, egois, dan menyakitkan secara psikis, mungkin kamu sedang berhadapan dengan tipe ini. Jangan langsung menyalahkan diri. Bertahan boleh, tapi jangan biarkan harga dirimu hancur pelan-pelan. Karena dalam Islam, kita diajarkan untuk menjaga diri dari keburukan—bahkan jika itu datang dari atas kita.

Jadi, kalau bosmu ternyata NPD, gimana?
Tetap sabar, tetap waras, tapi jangan diam.
Allah tahu, dan Dia tidak tidur. Jikapun kamu resign, berarti anda menjaga martabat dan harga diri anda melebihi hanya sebatas kerja dan gaji.

https://radarbali.jawapos.com/nasional/706096609/pemimpin-yang-npd-apa-itu?page=all

Tags: NDPPemimpin
Previous Post

Mengapa Hak Perempuan Harus Diperjuangkan? Refleksi Hari Kartini.

Next Post

Ketika Pemimpin Terlalu Mencintai Diri Sendiri

Next Post
Ketika Pemimpin Terlalu Mencintai Diri Sendiri

Ketika Pemimpin Terlalu Mencintai Diri Sendiri

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Ketika Kampus Pesantren Naik Level: Makna dan Harapan Transformasi menjadi Institut Al-Masthuriyah Sukabumi
  • Mewujudkan Madrasah ramah anak untuk semua
  • Menjaga benteng terakhir penjaga moral anak bangsa
  • Ambisi politik aktivis muda dan realitas menuju kekuasaan: What should you do?
  • Dua Guru, Sepuluh Bulan Tanpa Gaji, dan Rasa Keadilan yang Hilang 

Recent Comments

No comments to show.
RLI

© 2024 RLI

Navigate Site

  • Home Page
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • PROFIL
  • JURNAL
  • KEGIATAN
  • VIDEO

© 2024 RLI