RLI
Saturday, March 7, 2026
No Result
View All Result
  • HOME
  • PROFIL
  • JURNAL
  • KEGIATAN
  • VIDEO
  • HOME
  • PROFIL
  • JURNAL
  • KEGIATAN
  • VIDEO
No Result
View All Result
RLI
No Result
View All Result
Home artikel

Ambisi politik aktivis muda dan realitas menuju kekuasaan: What should you do?

Admin by Admin
November 8, 2025
in artikel
0 0
0
0
SHARES
260
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

 

Aktivis muda selalu hidup di tengah dinamika. Ada rapat hingga larut malam. Ada perdebatan tentang isu publik. Ada urusan kaderisasi. Semua itu membentuk cara pandang seseorang terhadap kekuasaan. Banyak yang kemudian sadar bahwa ruang pengaruh terbesar ada di ranah politik. Dari sini muncul dorongan untuk terjun lebih jauh. Ada ambisi. Ada hasrat untuk mengubah keadaan. Ini hal yang wajar.

 

Banyak orang tidak mengakui dorongan itu. Mereka takut dicap politis. Padahal aktivitas organisasi selalu bersentuhan dengan kepentingan publik. Kamu belajar menyusun argumen. Kamu melatih diri mengelola massa. Kamu memimpin tim di situasi yang tidak pasti. Sikap itu menumbuhkan keyakinan bahwa kamu bisa berada di panggung yang lebih besar.

 

Kebutuhan untuk mengingatkan diri muncul di titik ini. Ambisi politik bisa menjadi energi positif. Bisa juga berubah menjadi dorongan yang membutakan langkah. Kuncinya, kamu perlu memahami bahwa jalan menuju panggung politik tidak terjadi mendadak. Tidak muncul hanya karena kamu pernah memimpin forum. Tidak hadir hanya karena kamu dikenal di lingkungan internal organisasi.

 

Seorang senior pernah mengatakan bahwa panggung politik terbuka untuk siapa saja yang bersiap lebih awal. Kamu tidak harus menjadi politisi partai untuk dikenali publik. Ada tokoh yang muncul dari dunia akademik. Ada yang lahir dari kegiatan sosial. Ada yang tumbuh dari gerakan komunitas. Contoh seperti ini menunjukkan bahwa asal usul bukan faktor utama. Yang penting adalah rekam jejak. Publik melihat karya kamu, bukan label organisasi kamu.

 

Keinginan untuk berkontribusi melalui pilkada sering muncul di usia muda. Ini tidak salah. Kamu punya energi. Kamu punya keberanian. Kamu punya idealisme. Tantangannya, energi saja tidak cukup. Proses menjadi pemimpin publik menuntut kapasitas yang dibangun perlahan. Kamu perlu disiplin membentuk karakter. Kamu perlu kesabaran mengembangkan kompetensi. Kamu perlu kerendahan hati mendengar apa yang terjadi di lapangan.

 

Sulit bagi seseorang untuk tiba-tiba tampil sebagai calon pemimpin yang kredibel tanpa perjalanan panjang. Di sinilah kamu perlu merencanakan masa depan. Kamu mungkin belum tahu apakah akan maju dalam kontestasi politik. Tapi kamu tahu bahwa kamu ingin menjadi pribadi yang bermanfaat. Kamu ingin suaramu berpengaruh. Kamu ingin lingkunganmu berubah. Semua ini alasan yang cukup untuk mempersiapkan diri.

 

Ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan sejak awal. Poin-poin ini sederhana. Tapi efeknya besar untuk membangun pondasi masa depan.

 

1. Kuasai satu bidang. Publik sulit percaya pada orang yang tidak punya keahlian jelas. Kamu bisa memilih kebijakan publik, pendidikan, sosial, ekonomi daerah, atau isu yang kamu temui sehari-hari.

 

2. Bangun rekam jejak. Lakukan kegiatan yang bermanfaat untuk orang lain. Dokumentasikan prosesnya. Pastikan ada orang yang melihat langsung dampak pekerjaan kamu.

 

3. Perluas jaringan. Jangan terjebak di lingkaran yang sama. Bergaul dengan komunitas lain. Kenali tokoh lokal. Jalin hubungan dengan orang yang punya pandangan berbeda.

 

4. Pahami cara kerja politik. Kamu tidak harus menjadi kader partai. Tapi kamu perlu tahu bagaimana partai bergerak. Siapa yang mengambil keputusan. Bagaimana proses pencalonan berjalan.

 

5. Bentuk tim kecil. Kamu butuh orang yang bisa membaca situasi. Kamu butuh orang yang berani memberi kritik. Kamu butuh orang yang melengkapi kekuranganmu.

 

Langkah-langkah tersebut tidak langsung membuat kamu menjadi calon pemimpin. Tapi langkah-langkah itu membentuk karakter yang matang. Publik menilai kamu dari konsistensi. Mereka mencari bukti, bukan sekadar janji. Mereka ingin tahu apakah kamu benar-benar memahami persoalan masyarakat atau hanya ingin tampil.

 

Sebagian aktivis terlalu yakin bahwa pengalaman organisasi sudah cukup. Mereka merasa pernah memimpin rapat besar. Mereka merasa paham banyak isu. Mereka mengira pengalaman itu otomatis membuat mereka siap berpolitik. Kenyataannya tidak.

 

Dunia politik menuntut kedalaman. Kamu tidak hanya berbicara soal strategi kampanye. Kamu berbicara tentang kehidupan orang banyak. Kamu terlibat dalam keputusan yang menyentuh kesejahteraan publik.

 

Di titik ini kamu perlu ruang refleksi. Kamu perlu bertanya pada diri sendiri. Untuk apa kamu ingin terlibat di politik. Apa yang ingin kamu perjuangkan. Seberapa jauh kamu siap menghadapi tekanan. Seberapa besar kamu bersedia bekerja untuk masyarakat, bukan hanya untuk ambisi pribadi.

 

Refleksi ini membantu kamu jujur pada diri sendiri. Politik bukan tentang panggung semata. Bukan tentang popularitas. Bukan tentang sorotan. Politik adalah alat untuk memperbaiki keadaan. Jika kamu ingin alat itu bekerja, kamu harus mempersiapkan diri sebagai penggunanya. Jika tidak, alat itu malah akan merusak kamu.

 

Kamu bisa melihat perjalanan beberapa tokoh nasional. Ada yang memulai dari dunia kampus. Ada yang meniti karier melalui gerakan sosial. Ada yang lama bekerja di birokrasi. Masing-masing punya jalur berbeda. Yang sama adalah proses persiapan yang panjang. Mereka dikenal publik bukan karena tampil tiba-tiba. Mereka dikenal karena kerja bertahun-tahun yang bisa dilihat orang.

 

Aktivis muda bisa belajar dari sini. Kamu tidak perlu terburu-buru. Kamu hanya perlu bergerak dengan arah yang jelas. Kamu tidak perlu membayangkan kemenangan pilkada sejak sekarang. Kamu hanya perlu membayangkan bagaimana menjadi pribadi yang layak dipercaya publik. Jika kamu menjalani proses itu dengan baik, kesempatan akan datang dengan sendirinya.

 

Pada akhirnya, tulisan ini bukan untuk mendorong semua aktivis masuk politik. Tulisan ini mengajak setiap orang untuk menyadari potensi dirinya. Jika kamu punya ambisi, kelola dengan bijak. Jika kamu ingin berpengaruh, persiapkan diri dengan sungguh-sungguh. Jika kamu ingin menjadi pemimpin, mulai dari hal kecil hari ini.

 

Kamu adalah pemuda. Kamu adalah mahasiswa. Kamu hidup dalam masa yang penuh peluang. Masa depan terbentuk dari keputusan-keputusan kecil yang kamu buat hari ini. Jika suatu saat kamu memilih untuk terjun ke politik, kamu sudah punya pondasi yang kuat. Kamu sudah punya kompetensi yang teruji. Kamu sudah punya reputasi yang dikenali.

 

Dan ketika kesempatan datang, kamu tidak perlu ragu. Kamu sudah siap.

————

Mulyawan Safwandy Nugraha adalah Akademisi dengan fokus kajian pada Kepemimpinan, adminstrasi dan manajemen Pendidikan. Lulusan program Doktor dari UPI Bandung 2012. Saat ini sedang gandrung mengkaji Nilai-Nilai Islam dan psikologi dalam kepemimpinan. Home base di UIN SGD Bandung, dan berkhidmat di beberapa PTKIS di Sukabumi. Saat ini, diamanahi sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi, Direktur Research and Literacy Institute (RLI) dan beberapa pengabdian di beberapa organisasi. Menyenangi dunia penelitian,, pengabdian, publikasi dan pengelolaan jurnal ilmiah

Previous Post

Dua Guru, Sepuluh Bulan Tanpa Gaji, dan Rasa Keadilan yang Hilang 

Next Post

Menjaga benteng terakhir penjaga moral anak bangsa

Next Post

Menjaga benteng terakhir penjaga moral anak bangsa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Sepiring Parasetamol di Meja Kekuasaan: Respon atas Sikap Ketua BEM UGM
  • Di Antara Gizi dan Nurani: Refleksi atas Kritik Mahasiswa dan Arah Bangsa
  • Yang sedang Viral tentang MBG: Kritik Struktural BEM UGM Terhadap Anomali Kebijakan dan Konsolidasi Kekuasaan
  • Uji Konstitusionalitas Anggaran Pendidikan: Ketika Hak Guru dan Siswa Dipertaruhkan
  • Pendidikan atau Ilusi Anggaran? Menguji Konsistensi Konstitusi dalam Polemik MBG

Recent Comments

No comments to show.
RLI

© 2024 RLI

Navigate Site

  • Home Page
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • PROFIL
  • JURNAL
  • KEGIATAN
  • VIDEO

© 2024 RLI