Di sebuah institusi, pernah saya temui seorang pemimpin yang luar biasa… luar biasa dalam segala hal. Dalam berbicara, ia selalu benar. Dalam berdebat, ia selalu menang. Dalam setiap forum, ia paling bersinar. Tapi herannya, semakin lama ia memimpin, makin banyak orang yang memilih diam. Organisasi tetap jalan, tapi tak lagi hidup. Hati orang-orang di dalamnya perlahan mati.
Kita semua pernah melihat tipe pemimpin seperti itu. Ia bukan hanya percaya diri, tapi mencintai dirinya terlalu dalam. Seakan seluruh dunia berputar di sekelilingnya. Ia ingin dipuji, dielu-elukan, dan bila perlu disembah diam-diam. Maka ia membangun citra, mengatur narasi, dan membuat orang-orang di sekitarnya jadi cermin yang memantulkan kebesarannya.
Padahal, Rasulullah ﷺ yang paling layak dipuji, justru paling tidak suka dipuja-puja. Ketika seseorang memanggil beliau dengan gelar “Sayyiduna”, beliau menegur, “Jangan kalian mengangkatku lebih dari derajatku. Aku hanyalah hamba Allah dan utusan-Nya.” (HR. Ahmad). Itulah pemimpin sejati yang makin tinggi derajatnya, makin dalam kerendahannya.
Imam Al-Ghazali pernah menulis: “Cinta diri itu fitrah, tapi jika ia tidak dikendalikan, ia menjadi akar segala penyakit hati: ujub, takabur, hasad, dan riya.” Maka bayangkan jika cinta diri itu bersarang di hati seorang pemimpin. Setiap keputusan akan ditimbang dengan ego, bukan kebenaran. Setiap kritik dianggap ancaman, bukan masukan.
Saya teringat kisah seorang raja yang sombong. Ia menolak nasihat dari bawahannya, sebab merasa dirinya sudah paling tahu. Sampai suatu saat kerajaannya runtuh bukan karena perang, tapi karena tak ada lagi yang berani bicara jujur. Organisasi pun bisa runtuh bukan karena musuh, tapi karena pemimpinnya tak tahan pada suara berbeda.
Seorang pemimpin narsistik biasanya pandai bersilat kata. Ia tampil memukau, berwacana besar, seolah menyelamatkan dunia. Tapi di balik semua itu, ada keinginan tersembunyi: “Lihat aku! Aku luar biasa, bukan?” Maka benar kata pepatah Arab: “Al-mutakabbiru idza ruziqa lisanan, kana fitnatan lil-jama’ah”—pemimpin arogan jika diberi lidah, jadi bencana bagi umat.
Ayat Al-Qur’an memberi peringatan yang tajam:
“Dan janganlah engkau memiringkan pipimu dari manusia (karena sombong), dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Pemimpin yang mulia justru harus tunduk, bukan pongah.
Ada pula pemimpin yang mengira dirinya sedang membangun organisasi, padahal diam-diam sedang membangun patung dirinya sendiri. Logo dibuat mirip wajahnya, program-program diberi nama dari inisialnya, dan semua yang dikerjakan tim harus mengarah pada satu tujuan: memperkuat citranya. Ia lupa bahwa organisasi bukan miliknya, dan kekuasaan itu amanah, bukan alat promosi.
Namun mari kita tidak sekadar menyalahkan. Pemimpin narsistik lahir juga karena kita yang terlalu suka memuji buta. Kita yang terlalu mudah terpesona pada gaya, bukan isi. Kita lebih peduli pada retorika daripada kerja nyata. Maka dalam memilih pemimpin, jangan cari yang pintar bicara, tapi yang sanggup mendengar. Jangan cari yang paling terang, tapi yang paling jujur.
Syaikh Ibnu Atha’illah berkata: “Salah satu tanda matinya hati adalah ketika engkau lebih takut kehilangan pujian manusia daripada kehilangan keridhaan Allah.” Pemimpin sejati bukan yang dicintai karena takut, tapi yang dicintai karena adil. Ia tak mencari kekaguman, tapi keberkahan. Ia lebih senang dicintai langit daripada diagungkan manusia.
Pemimpin yang mencintai diri sendiri lebih dari segalanya, pada akhirnya akan berakhir sendiri. Orang-orang akan menjauh perlahan. Yang tinggal hanya yang pura-pura setia. Tapi pemimpin yang mencintai rakyatnya lebih dari egonya, akan tumbuh cinta dari segala arah. Bahkan ketika ia telah tiada, namanya tetap hidup di hati manusia.
Maka mari kita doakan: semoga Allah anugerahkan pemimpin-pemimpin yang rendah hati, yang bisa berkata “saya salah”, yang lebih senang mendengar daripada didengar, yang mencintai kebenaran lebih dari mencintai dirinya. Sebab kepemimpinan bukan soal siapa yang paling depan, tapi siapa yang paling siap berkorban.

