
*Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Direktur Research and Literacy Institute (RLI)
Setiap kali Kota Sukabumi memperingati hari jadinya, saya tidak hanya melihat perayaan. Saya melihat proses pendidikan yang sedang berlangsung. Kota ini seperti ruang kelas besar. Di dalamnya, setiap kebijakan, setiap layanan, dan setiap interaksi sosial adalah pelajaran bagi warganya.
Saya lahir dan tumbuh di kota ini. Saya belajar banyak bukan hanya dari sekolah, tetapi dari kehidupan sehari-hari. Dari cara orang tua menasihati anaknya, dari guru yang mengajar dengan sabar, dari tokoh masyarakat yang memberi teladan. Semua itu membentuk wajah Sukabumi sebagai kota yang tidak hanya hidup, tetapi juga mendidik.
Ketika gagasan tentang kolaborasi dan kemajuan disampaikan dalam peringatan hari jadi itu, saya melihatnya sebagai bagian dari pendidikan sosial. Dalam perspektif pendidikan Islam, tujuan utama bukan sekadar mencerdaskan akal, tetapi membentuk manusia yang utuh. Manusia yang berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab.
Kota yang baik adalah kota yang mampu menjalankan fungsi itu.
Kemajuan layanan kesehatan yang disampaikan, misalnya, bukan hanya soal fasilitas. Ia juga bagian dari pendidikan nilai. Ketika masyarakat melihat adanya kesungguhan dalam melayani, di situ ada pelajaran tentang tanggung jawab. Ketika akses diperluas, di situ ada pelajaran tentang keadilan. Namun pendidikan itu akan menjadi utuh jika diiringi dengan keteladanan. Karena dalam pendidikan Islam, teladan lebih kuat daripada sekadar kata-kata.
Di sinilah peran kepemimpinan menjadi penting. Pemimpin bukan hanya pengambil keputusan, tetapi juga pendidik. Sikap, kebijakan, dan cara berkomunikasi akan menjadi contoh yang ditiru. Jika pemimpin jujur, masyarakat akan belajar kejujuran. Jika pemimpin adil, masyarakat akan belajar tentang keadilan.
Namun pendidikan kota tidak hanya bergantung pada pemimpin. Ia juga tumbuh dari keluarga, sekolah, dan lingkungan. Orang tua mendidik di rumah. Guru mendidik di sekolah. Masyarakat mendidik di ruang sosial. Ketiganya harus berjalan searah. Jika tidak, yang terjadi adalah kebingungan nilai.
Saya melihat Sukabumi memiliki potensi besar dalam hal ini. Kota ini masih memiliki banyak lembaga pendidikan, pesantren, dan komunitas yang hidup. Ini adalah modal yang tidak semua kota miliki. Tinggal bagaimana semua potensi itu dihubungkan dalam satu visi yang sama, yaitu membangun manusia yang berkualitas.
Dalam pandangan pendidikan Islam, keberhasilan tidak hanya diukur dari capaian material. Ia diukur dari kualitas manusia yang dihasilkan. Apakah generasi mudanya memiliki integritas. Apakah mereka memiliki kepedulian. Apakah mereka mampu hidup dengan nilai yang benar.
Jika kota hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi abai pada pembinaan manusia, maka kemajuan itu akan rapuh. Sebaliknya, jika manusia dibina dengan baik, maka keterbatasan fisik pun bisa diatasi.
Saya berharap Sukabumi tidak hanya menjadi kota yang berkembang, tetapi juga kota yang mendidik. Kota yang setiap sudutnya mengajarkan nilai. Kota yang menghadirkan keteladanan. Kota yang membuat warganya tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Sebagai warga, saya ingin terus percaya bahwa kota ini sedang bergerak ke arah itu. Bahwa setiap upaya yang dilakukan bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk membentuk generasi yang akan datang. Karena pada akhirnya, masa depan kota tidak ditentukan oleh apa yang kita bangun hari ini, tetapi oleh siapa yang kita didik hari ini.
Dirgahayu Kota Sukabumi ke-112.