RLI
Friday, February 27, 2026
No Result
View All Result
  • HOME
  • PROFIL
  • JURNAL
  • KEGIATAN
  • VIDEO
  • HOME
  • PROFIL
  • JURNAL
  • KEGIATAN
  • VIDEO
No Result
View All Result
RLI
No Result
View All Result
Home artikel

Sebelum Allah Menagih Amanah 

Admin by Admin
February 26, 2026
in artikel
0 0
0
0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter


Mulyawan Safwandy Nugraha

Ramadhan itu seperti tamu tua yang selalu datang membawa rahasia. Ia tidak banyak bicara, tapi kehadirannya membuat kita gelisah. Tiba-tiba kita merasa kecil. Tiba-tiba jabatan yang selama ini terasa gagah menjadi seperti kursi kayu rapuh yang bisa patah kapan saja. Saya sering merenung, kenapa setiap Ramadhan datang, justru yang terasa bukan lapar, tapi takut. Takut kalau-kalau amanah yang saya pegang selama ini ternyata cuma saya jadikan hiasan nama.

Allah berfirman dalam QS An Nisa ayat 58, agar amanah disampaikan kepada yang berhak. Nabi mengingatkan, setiap kita adalah pemimpin dan setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban. Kalimat ini sederhana. Tidak tinggi. Tidak filosofis. Tapi justru karena itu ia menohok. Tidak ada ruang untuk bersembunyi. Tidak ada celah untuk pura-pura tidak tahu.

Coba kita jujur sebentar. Jabatan itu sering kita anggap rezeki. Padahal bisa jadi ia ujian. Kita merasa naik derajat. Padahal bisa jadi kita sedang digiring menuju tanggung jawab yang lebih berat. Gunung saja menolak amanah, kata Al Quran. Langit dan bumi tidak sanggup. Lalu kita ini siapa sampai begitu percaya diri mengejarnya. Kadang saya merasa kita terlalu ringan mengucap siap, padahal belum tentu siap.

Saya tidak sedang bicara tentang menteri, bupati, atau direktur. Saya bicara tentang saya. Tentang Anda. Tentang kepala keluarga yang memutuskan pendidikan anaknya. Tentang guru yang menentukan nilai muridnya. Tentang pengelola lembaga yang menandatangani laporan. Kita semua memegang kuasa dalam skala masing-masing. Dan kuasa sekecil apa pun selalu mengandung potensi untuk disalahgunakan.

Pengkhianatan amanah itu sering tidak berisik. Ia tidak selalu masuk berita. Ia hadir dalam bentuk kecil. Datang terlambat tapi merasa biasa saja. Mengulur pelayanan karena tidak ada yang mengawasi. Menggunakan fasilitas bersama untuk kepentingan pribadi. Kita bilang, ah cuma sedikit. Tapi bukankah neraca Allah tidak pernah salah hitung. Bahkan yang seberat zarrah pun dicatat.

Ramadhan sebenarnya sedang melatih kita menjadi manusia yang tidak perlu diawasi CCTV. Kita tidak makan di siang hari bukan karena tidak ada makanan. Kita tidak minum bukan karena tidak ada air. Kita menahan diri karena sadar Allah melihat. Kalau kesadaran ini hilang setelah adzan magrib dan setelah Idul Fitri, berarti kita hanya menahan lapar, belum menahan diri.

Nabi pernah mengingatkan Abu Dzar bahwa jabatan adalah amanah dan pada hari kiamat bisa menjadi penyesalan. Saya membayangkan kalimat itu bukan ancaman, tapi pelukan yang tegas. Seolah Nabi berkata, hati-hati, jangan main-main. Karena jabatan bukan soal kursi, tapi soal hisab. Bukan soal dihormati, tapi soal dipertanyakan.

Kadang saya merasa lucu pada diri sendiri. Kita mudah sekali kecewa pada pemimpin yang kita nilai tidak amanah. Kita marah. Kita kritik. Kita tulis panjang lebar. Tapi apakah di rumah kita sudah adil. Apakah di kantor kecil kita sudah jujur. Jangan-jangan kita hanya ingin orang lain bersih, sementara kita masih menyimpan pembenaran untuk kesalahan sendiri. Ini mungkin terdengar keras, tapi mungkin kita memang perlu sedikit ditampar dengan lembut.

Amanah itu bukan hanya soal uang. Ia soal waktu, perhatian, keputusan. Seorang ayah yang sibuk dan lupa mendengar cerita anaknya juga sedang menguji amanah. Seorang atasan yang enggan mengapresiasi bawahannya juga sedang diuji. Bahkan saya yang menulis ini pun sedang bertanya, sudahkah saya sungguh-sungguh menjaga apa yang dititipkan Allah, atau baru pandai merangkai kata.

Pada akhirnya, jabatan tidak ikut dikubur bersama kita. Yang ikut adalah jejaknya. Setiap tanda tangan. Setiap keputusan. Setiap kemudahan atau kesulitan yang kita sebabkan bagi orang lain. Maka sebelum kita sibuk mencari posisi yang lebih tinggi, mungkin kita perlu bertanya pelan-pelan malam ini, kalau Allah menagih amanah saya sekarang juga, apakah saya siap menjawabnya.

*) Penulis adalah Direktur Research and Literacy Institute (RLI), Dosen UIN SGD Bandung, Dosen luar biasa pada Institut KH. Ahmad Sanusi Sukabumii, Institut Al-Masthuriyah Sukabumi dan STAI Kharisma Sukabumi, serta diamanahi sebagai  Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi MUI Kota Sukabumi Periode 2025-2030.

Previous Post

Webinar Nasional Agerlip Series #6 Dorong Penguatan Budaya Literasi Guru Madrasah

Next Post

Ramadhan dan Cermin Amanah

Next Post

Ramadhan dan Cermin Amanah

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

  • Sepiring Parasetamol di Meja Kekuasaan: Respon atas Sikap Ketua BEM UGM
  • Di Antara Gizi dan Nurani: Refleksi atas Kritik Mahasiswa dan Arah Bangsa
  • Yang sedang Viral tentang MBG: Kritik Struktural BEM UGM Terhadap Anomali Kebijakan dan Konsolidasi Kekuasaan
  • Uji Konstitusionalitas Anggaran Pendidikan: Ketika Hak Guru dan Siswa Dipertaruhkan
  • Pendidikan atau Ilusi Anggaran? Menguji Konsistensi Konstitusi dalam Polemik MBG

Recent Comments

No comments to show.
RLI

© 2024 RLI

Navigate Site

  • Home Page
  • Sample Page
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • HOME
  • PROFIL
  • JURNAL
  • KEGIATAN
  • VIDEO

© 2024 RLI