Asosiasi Guru Literasi Indonesia (AGERLIP) kembali menggelar Webinar Nasional Agerlip Series #6 pada Ahad, 1 Februari 2026. Kegiatan ini mengangkat tema “Meningkatkan Minat Membaca dan Menulis Guru Madrasah” dan diikuti oleh guru, dosen serta pegiat pendidikan madrasah/sekolah dari berbagai daerah di Indonesia secara daring.
Webinar kali ini menghadirkan dua narasumber nasional, yakni Dr. H. Mulyawan S. Nugraha, M.Ag., M.Pd. selaku Ketua Umum AGERLIP PP PGM Indonesia dan Dra. Rr. Ayu Dewi Widowati, guru MTs Negeri 1 Yogyakarta sekaligus pegiat literasi dan penulis puluhan buku.
Diawali sambutan Sekretaris Umum AGERLIP PGM Indonesia Deni Kurniawan As’ari yang mengungkapkan bahwa tema webinar sangat relevan dengan tantangan pendidikan Indonesia saat ini. Mengutip data PISA 2022 Deni mengatakan kemampuan literasi membaca pelajar Indonesia masih berada di bawah rata-rata internasional.
“Guru memegang peran strategis sebagai penggerak budaya literasi. Apa yang dibaca, ditulis, dan dipraktikkan oleh guru akan sangat memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan belajar peserta didik. Madrasah yang ingin melahirkan generasi literat harus terlebih dahulu menumbuhkan tradisi membaca dan menulis di kalangan gurunya,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, narsum pertama, Dr. Mulyawan Safwandy Nugraha menegaskan bahwa literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi sebagai kecakapan sepanjang hayat yang mencakup literasi digital, numerasi, sains, dan sosial budaya sebagaimana dipotret dalam Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI).
“Mari kita dorong agar madrasah dapat membangun kebiasaan literasi guru secara konsisten melalui langkah-langkah sederhana namun berkelanjutan, seperti membaca 15 menit setiap hari, jurnal refleksi mengajar, komunitas belajar guru (PLC), serta penulisan karya ilmiah populer dan modul pembelajaran berbasis literasi,” katanya.
Sementara itu, narsum kedua, Dra. Rr. Ayu Dewi Widowati membagikan pengalaman inspiratif perjalanan literasi dan kepenulisannya sejak awal pandemi Covid-19. Berangkat dari kegemaran membaca dan keberanian menulis, ia berhasil menggerakkan guru, siswa, orang tua, hingga berbagai komunitas untuk terlibat dalam penulisan buku antologi.
“Dalam kurun waktu Maret 2020 hingga Oktober 2021, saya telah membersamai lahirnya sekitar 57 buku antologi yang melibatkan berbagai unsur madrasah dan masyarakat,” uajarnya.
Dalam presentasinya yang bertajuk “Inspirasi Menulis dari Jogja untuk Indonesia”, Ayu menekankan bahwa menulis adalah cara berbagi gagasan, mengikat pengalaman, dan meninggalkan jejak kebaikan.
“Jangan takut memulai menulis dari ide-ide sederhana,” terang Ayu.
Ia menjelaskan tahapan praktis penyusunan buku antologi, mulai dari penentuan tema, pengumpulan naskah, proses penyuntingan, hingga penerbitan dan tindak lanjut literasi di madrasah.
Kegiatan webinar berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang dipandu moderator Baharudin Sabda Prasojo, M.Pd. Para peserta nampak antusias dan memberikan apresiasi atas materi yang tidak hanya konseptual tetapi juga aplikatif.
Melalui kegiatan ini, AGERLIP berharap dapat terus mendorong tumbuhnya budaya membaca dan menulis di kalangan guru madrasah sebagai fondasi penguatan literasi peserta didik dan peningkatan mutu pendidikan madrasah di Indonesia.