
Mulyawan Safwandy Nugraha
Selepas makan Sahur Pagi ini jelang Subuh, di hari ke-8 bulan Ramadhan 1447 H, ditemani secangkir teh tawar di beranda rumah, saya merenung menatap layar gawai. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyergap dada saat membaca berita tentang anak-anak muda di BEM UGM dan rentetan tragedi kemanusiaan di Nusa Tenggara Timur. Saya ini sesungguhnya hanyalah pendidik biasa yang sehari-hari sering berbicara soal moral di kelas. Tapi jujur saja, melihat realitas telanjang di luar sana kadang membuat saya merasa begitu kerdil.
Saya acap kali mengeluh di dalam hati saat jadwal mengajar sedang padat atau ketika fasilitas kampus terasa kurang memadai. Namun, batin saya tertampar dengan keras saat mengetahui ada seorang anak di pelosok NTT yang memilih mengakhiri hidupnya hanya karena tak mampu membeli alat tulis seharga sepuluh ribu rupiah. Ya Tuhan, hanya sepuluh ribu. Di saat yang sama, kita disuguhi parade angka triliunan untuk program-program pemerintah.
Perhatian saya sungguh tak bisa lepas dari hiruk-pikuk program Makan Bergizi Gratis yang terus menuai polemik tajam. Niat awalnya mungkin sangat mulia, yakni memberikan asupan gizi bagi tunas bangsa. Tapi, di kedalaman batin, saya bertanya-tanya dengan sangat cemas. Apakah benar program raksasa ini murni demi anak-anak kita? Atau jangan-jangan, seperti yang diteriakkan mahasiswa, ada kepetingan politik yang bersembunyi rapi di baliknya?
Sosok Tio Ardianto, Ketua BEM UGM yang keberaniannya sedang viral itu, mau tak mau mengingatkan saya pada masa muda yang penuh letupan idealisme. Dia dengan berani menyebut kebijakan ini sebagai anomali yang merugikan dunia pendidikan. Ratusan triliun dana pendidikan kabarnya dialihkan, sementara di pelosok negeri sana, para guru honorer harus menahan perihnya rasa lapar dengan gaji bulanan yang tak manusiawi.
Sebagai manusia biasa, saya terus mencoba untuk tidak langsung menghakimi para pengambil kebijakan di Jakarta. Barangkali mereka memang sedang pusing mengurus negara yang luar biasa majemuk ini. Tapi, ketika tata kelola dibiarkan amburadul hingga belasan ribu anak keracunan, wajar jika nurani publik akhirnya memberontak. Kebijakan publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak tak seharusnya hanya diukur memakai kalkulator pebisnis.
Kekecewaan ini kian menebal ketika mendengar kabar bahwa unit penyedia makanan diduga kuat dikelola oleh lingkaran elit lokal. Ada aroma konsolidasi kekuasaan yang sangat menyengat di sana. Fakta ini sungguh membuat hati saya mriris perih. Sesungguhnya kita ini sedang sungguh-sungguh membangun generasi emas yang cerdas, atau justru sedang menyemai oligarki baru yang perlahan merayap ke balai-balai desa?
Hal yang paling menyayat relung hati adalah respons negara terhadap kritik murni penerus bangsa ini. Alih-alih diajak berdialog luhur, mereka justru berhadapan dengan teror, ancaman pembunuhan, dan represi. Saya jadi malu pada diri sendiri. Mereka rela megorbankan rasa amannya demi sebuah kebenaran, sementara kita yang sudah tua ini sering kali lebih suka bungkam demi menjaga zona nyaman.
Di tengah tekanan yang mengimpit itu, saya menaruh hormat pada keteguhan mereka menolak undangan ke istana. Bagi para mahasiswa, pertemuan elitis yang penuh basa-basi itu hanyalah sekadar “parasetamol”. Obat penurun panas yang mungkin meredakan nyeri sesaat, tapi tak mampu menyembuhkan luka kronis ibu pertiwi. Ini tamparan halus bagi kita yang kerap terbuai oleh gemerlap jabatan dan formalitas.
Kendati demikian, situasi yang karut-marut ini seharusnya tak membuat kita terjerembap dalam keputusasaan. Ini adalah panggilan semesta untuk melakukan kontemplasi mendalam. Kita butuh jeda sejenak untuk merenung, membersihkan niat, dan menyemai kembali integritas yang mungkin sempat layu. Demokrasi negeri ini bukanlah milik segelintir elit, melainkan titipan anak cucu yang harus kita rawat bersama kewarasannya.
Pada akhirnya, kita menyadari bahwa kita tak bisa lagi sekadar duduk manis menanti keajaiban turun dari langit, atau menunggu perubahan instan dari istana. Perubahan sejati harus selalu dimulai dari kejujuran nurani kita sendiri, di ruang keluarga kita, dan di sudut-sudut kelas kita. Namun, di tengah gemuruh ambisi kekuasaan yang kian hari kian memekakkan telinga, masihkah kita memiliki secercah keberanian untuk sekadar bersuara menolak dibungkam?
Referensi
Abraham Samad SPEAK UP. (2026, Februari 19). Diteror & Dapat Ancaman Pembunuhan. Ketua BEM UGM: MBG, Maling Berkedok Gizi? | #SPEAKUP [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=o1xsOdtuLRE
Forum Keadilan TV. (2026, Februari 18). NYALA API DI JALAN SUNYI PERJUANGAN [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=Cx1y9_wpGlA
SINDOnews. (2025, Oktober 27). Mahasiswa Not for Sale! Ketua BEM UGM: Kami Siapkan Gerakan Baru | To The Point Aja | 27/10 [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=AyxxBjCK1MI